(021)801-2521

PT Sinergi Solusi Bisnis

Provider Training Terbaik di Indonesia

Senin, 31 Juli 2017

Transaksi Dalam Mata Uang Asing

Bagi perusahaan, selisih kurs akan muncul dalam transaksi yang melibatkan mata uang asing. Sesuai dengan ketentuan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No. 10) ditentukan bahwa transaksi dalam mata uang asing harus dibukukan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi.


Dalam paragraf 09 PSAK No.10 yang berkaitan dengan pelaporan pada tanggal neraca dijelaskan bahwa:
  • Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat digunakan kurs tengah BI sebagai indikator yang obyektif; 
  • Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal neraca tetapi harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal transaksi; dan 
  • Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai tersebut ditentukan. 
Pada prinsipnya, selisih kurs yang terjadi dibebankan langsung pada tahun berjalan. Namun dalam kondisi tertentu yang bersifat luar biasa, dapat dikapitalisasi. Misalnya selisih kurs yang timbul akibat devaluasi atau revaluasi harga, kecuali perusahaan sudah melakukan hedging.

Sedangkan menurut perpajakan, keuntungan kurs merupakan obyek Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 4 ayat (1) huruf I UU PPh dan kerugian kurs merupakan biaya yang boleh dikurangkan dari Penghasilan Kena Pajak (PKP) Pasal 6 ayat (1) huruf e UU PPh. 


Secara umum peraturan pelaksanaan perpajakan tentang selisih kurs diatur dalam Surat Edaran No. SE-03/PJ.31/1997 sebagai berikut:
  • Pengenaan pajak atas keuntungan selisih kurs harus dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak secara taat asas. Keuntungan selisih kurs yang diperoleh Wajib Pajak Badan atau Orang Pribadi harus dilaporkan dalam SPT Tahun PPh; 
  • Kerugaian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak menggunakan kurs tetap dan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun. 
Khusus untuk kerugian kurs yang terjadi di tahun 1997, Wajib Pajak diperkenankan untuk memilih pembebanan kerugian kurs dengan cara pembebanan sekaligus atau dengan cara mengalokasikan selama 5 tahun. Alokasi dimulai sejak tahun pajak 1997 dalam jumlah yang sama setiap tahunnya dan dilaksanakan secara taat azas (KMK-597/KMK.04/1997).

Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it -
Join Our Newsletter