(021)801-2521

PT Sinergi Solusi Bisnis

Provider Training Terbaik di Indonesia

Selasa, 01 Agustus 2017

Pengertian Transfer Pricing

Transfer pricing tp doc merupakan kebijakan suatu perusahaan dalam menentukan harga transfer suatu transaksi. Transfer pricing dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu intra-company dan inter-company transfer pricing.

Intra-company transfer pricing merupakan transfer pricing antar divisi dalam satu perusahaan. Sedangkan inter-company transfer pricing merupakan transfer pricing antara dua perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Kedua perusahaan tersebut bisa berada dalam satu negara (domestic transfer pricing), bisa juga berada di negara yang berbeda (international transfer pricing).

Transfer pricing, terutama international transfer pricing, dapat menimbulkan permasalahan apabila digunakan untuk kepentingan penghindaran pajak. Dengan international transfer pricing, perusahaan-perusahaan yang berada pada negara yang berbeda dapat mengatur harga transfer sedemikian rupa sehingga perusahaan di negara yang tarif pajaknya rendah mendapatkan keuntungan yang setinggi-tingginya, sedangkan perusahaan di negara yang tarif pajaknya lebih tinggi mendapatkan keuntungan yang serendah-rendahnya. Baca: info training pajak

Domestic transfer pricing bisa juga digunakan untuk menghindari pajak, meskipun dalam jumlah yang tidak signifikan, dengan cara menetapkan harga transfer sedemikian rupa sehingga Penghasilan Kena Pajak (PKP) tersebar merata pada perusahaan-perusahaan terkait untuk mengurangi kemungkinan terkena tarif pajak progresif tertinggi dan laba dapat dialihkan kepada perusahaan yang masih berhak menikmati kompensasi kerugian.

Dengan rekayasa transfer pricing, Indonesia tidak mendapatkan alokasi laba padahal laba grup tidak akan ada kalau barang tersebut tidak rekayasa semuanya itu dibeli orang Indonesia. Karena dilakuka di luar Indonesia, pemeriksa pajak tidak punya akses data ke sana. Ini merupakan masalah yang pelik untuk pembuktiannya.

Karena sesuatunya sudah diatur secara rapi dan canggih secara formal (on paper), pemeriksa pajak akan mengalami kesulitan untuk melakukan koreksi rekayasa tersebut. Untuk memperkirakan arm’s length profit dari perusahaan Indonesia, umumnya pemeriksa memberlakukan metode resale price (harga jual minus).

Masalah dari metode ini adalah tidak mudahnya mendapatkan data laba kotor yang wajar, apalagi menyangkut bukti dokumen yang berada di luar yurisdiksi Indonesia. Tentu saja, Wajib Pajak akan dengan mudah mematahkan koreksi transfer price.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it -
Join Our Newsletter