(021)801-2521

PT Sinergi Solusi Bisnis

Provider Training Terbaik di Indonesia

Selasa, 01 Agustus 2017

Penyajian dan Pengungkapan Pajak Tangguhan


Penyajian Pajak Tangguhan 
  • Aktiva pajak dan kewajiban pajak harus disajikan terpisah dari aktiva dan kewajiban lainnya dalam neraca.
  • Deferred tax asset dan deferred tax liability harus dibedakan dari tax receivable/prepaid tax dan tax payable.
  • Deferred tax asset (liability) tidak boleh disajikan sebagai aktiva (kewajiban) lancar. 
  • Aktiva pajak kini harus di-offset dengan kewajiban pajak kini dan jumlah netonya harus disajikan pada neraca. 
  • Beban (penghasilan) pajak yang berhubungan dengan laba atau rugi dari aktivitas normal harus disajikan tersendiri pada laporan laba rugi.
  • PPh Final
  1. Beban atau penghasilan yang terkait dengan PPh final tidak akan menimbulkan Beda waktu sehingga adanya aktiva atau kewajiban pajak tangguhan tidak diakui. 
  2. Atas penghasilan yang telah dikenakan PPh final, beban pajak diakui proporsional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi yang diakui pada periode berjalan. 
  3. Selisih antara jumlah PPh final yang terutang dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi diakui sebagai Pajak Dibayar Di Muka dan Pajak yang Masih Harus Dibayar. 
  4. Akun PPh final dibayar di muka harus disajikan terpisah dari PPh final yang masih harus dibayar. 
  • Perlakuan akuntansi untuk hal khusus 
  1. Jumlah tambahan pokok dan denda pajak yang ditetapkan dalam Surat Ketetapan Pajak harus dibebankan sebagai pendapatan atau beban lain-lain pada Laporan Laba Rugi periode berjalan. 
  2. Apabila diajukan keberatan dan atau banding, pembebanannya ditangguhkan. 
  3. Apabila terdapat kesalahan mendasar, perlakuan akuntansinya mengacu pada PSAK 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan dan Perubahan Kebijakan Akuntansi.


Pengungkapan Pajak Tangguhan 
  • Unsur-unsur utama beban/penghasilan pajak. 
  • Jumlah pajak kini dan tangguhan yang berasal dari transaksi yang berasal dari transaksi-transaksi yang langsung dibebankan/dikreditkan ke ekuitas. 
  • Beban/penghasilan pajak dari pos luar biasa yang diakui pada periode berjalan. 
  • Penjelasan hubungan antara beban/penghasilan pajak dan laba akuntansi dengan cara berikut: 
  1. Rekonsiliasi antara beban/penghasilan pajak dengan hasil kali laba akuntansi dan tarif pajak yang berlaku; atau 
  2. Rekonsiliasi antara tarif pajak efektif rata-rata (average effective tax rate = beban/penghasilan pajak dibagi laba akuntansi) dengan tarif pajak. 
  • Penjelasan mengenai perubahan tarif pajak yang berlaku dan perbandingannya dengan tarif pada periode sebelumnya. 
  • Jumlah (dan batas waktu penggunaan, jika ada) Beda waktu dan sisa rugi kompensasi yang boleh/tidak boleh diakui sebagai aktva pajak tangguhan pada neraca. 
  • Untuk setiap kelompok Beda waktu dan untuk setiap kelompok rugi yang dapat dikompensasikan ke tahun berikut: 
  1. Jumlah aktiva dan kewajiban pajak tangguhan yang diakui pada neraca untuk setiap periode berjalan; 
  2. Jumlah beban/penghasilan pajak tangguhan yang diakui pada laporan laba rugi apabila jumlah tersebut tidak terlihat dari perubahan jumlah aktiva atau kewajiban pajak tangguhan yang diakui pada neraca. 
  • Untuk operasi yang tidak dilanjutkan, beban pajak yang berasal dari: 
  1. Keuntungan atau kerugian atas penghentian operasi; 
  2. Laba (rugi) dari aktivitas normal operasi yang tidak dilanjutkan untuk periode pelaporan, bersama dengan jumlah periode akuntansi sebelumnya yang disajikan dalam laporan keuangan. 
  • Jumlah aktiva pajak tangguhan dan sifat bukti yang mendukung pengakuannya jika:
  1. Penggunaan aktiva pajak tangguhan tergantung pada apakah laba fiskal yang dapat dihasilkan pada periode mendatang melebihi laba dari realisasi Beda waktu kena pajak yang telah ada; dan 
  2. Perusahaan telah menderita kerugian pada periode berjalan atau periode sebelumnya.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it -
Join Our Newsletter